KBRN, Malang : Kota Malang hingga saat ini masih belum terbebas dari penyakit Tuberkulosis (TBC). Bahkan kasusnya pun semakin tinggi. Untuk itulah Dinas Kesehatan Kota Malang berkolabirasi dengan pihak lain yaitu SSR YABHYSA Malang dalam penanggulangan kasus TBC di Kota Malang.

Sebagai informasi YABHYSA adalah komunitas begerak di bidang kesehatan khususnya TBC dan di Kota Malang bersama dengan 29 SSR se Jatim sejak tahun 2021.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Husnul Muarif dalam acara Konferensi Pers Pernyataan Bersama Upaya Kolaborasi Penanggulangan TBC di Kota Malang SSR YABHYSA TBC Kota Malang bersama Dinkes Kota Malang di Hotel Tugu. Sabtu 16 Desember 2023 Mengatakan, meskipun kasusnya meningkat namun bisa diobati .

Dijelaskan, temuan kasus TBC di Kota Malang tahun 2023 sebanyak 2.716 kasus. lebih banyak dibandingkan Tahun 2022 yang berjumlah 2.417 kasus.

” Jumlah temuan kasus terbanyak ada di wilayah Kecamatan Sukun,”katanya.

Ia menegaskan, penyebab kasus ini menjadi banyak karena masyarakat masih menganggap sepele terutama saat batuk dan mereka enggan memeriksakan diri namun saat penyakitnya parah baru memeriksakan diri.

Selain di Kecamatan Sukun yang paling banyak kasusnya yakni 437 kasus ada  Kecamatan Kedungkandang diposisi 2 dengan 427 kasus, Kecamatan Blimbing 335 kasus, Lowokwaru 288 kasus dan terendah di Klojen yakni sebanyak 245 kasus temuan. 

Dijelaskan, penyakit tbc bisa disembuhkan dengan pengobatan reguler selama 6 bulan, dan yang kasus resistance bisa pengobatan sampai 12 bulan. Dan satu orang pasien harus didampingi satu orang pendamping agar pasien disiplin mengkonsumsi obat sehingga mempercepat kesembuhan.

Sementara Kepala SSR YABHYSA Peduli TBC Kota Malang Dra. Ruly Narulita, M.AP menjelaskan pihaknya bekerjasama dengan Dinkes Kota Malang dalam menangani dan menanggulangi kasus TBC di Kota Malang.

“ Kami membantu Dinkes melakukan penyuluhan, edukasi, skrining, dan pendampingan. Tapi mulai tahun ini kami buat inovasi gerakan RW Bebas TBC. Bulan lalu kami uji cobakan di 17 RT di Kelurahan Jodipan,” tegas Ruly.

Ia mengakui, untuk Kota Malang memang sulit karena kasusnya sangat dinamis. TBC ini cepat menular, potensinya terutama dipusat- pusat keramaian seperti di pasar-pasar,  komunitas masyarakat sulit dideteksi.

“Kadang batuk biasa tapi kadang batuk tbc, namun dengan adanya kerjasama ini semoga semakin solid dan memberi manfaat untuk masyarakat.” ungkapnya.

Telah terbi di https://www.rri.co.id/kesehatan/483439/kasus-tbc-di-kota-malang-meningkat-akibat-enggan-periksa